Post Page Advertisement [Top]

adeartikel

Media Massa masih Punya Kekuatan dalam Membentuk Opini Publik


Dengan adanya informasi politik yang disajikan melalui media, masyarakat menjadi tahu mengenai realitas dan perkembangan isu politik.
Melalui media juga kita sebagai masyarakat dapat menyuarakan opini dan pandangan tentang situasi politik yang sedang terjadi. Dalam tatanan dunia politik, media seolah sudah tidak asing lagi dimata masyarakat.
Media massa merupakan komunikasi bersifat persuasif, sering kali mengukuhkan nilai-nilai yang kita yakini sebelum atau sesudahnya. Bisa jadi,  seseorang yang tidak memihak pada suatu partai politik akan berubah aspirasi politiknya, karena terpengaruh pemberitaan di media massa. Media massa juga mampu menggerakkan seseorang mengambil tindakan.
Salah satu contoh, pencitraan Dodi Reza Alex Nurdin yang mencalonkan diri sebagai Bupati Musi Banyuasin. Aktivitas  sosial yang ia lakukan di daerah Serasan Sekate tidak pernah berhenti. Bahkan hampir semua kegiatan di daerah itu selalu ia ikuti. Tidak lupa, memanfaakan media masa sebagai pencitraan. Pencitraan demikian secara tidak langsung dapat dibaca terhadap apa yang dilakukan seseorang memiliki tujuan tertentu. Yakni mengiring opini publik. Orang bisa menilai terhadap apa yang dilakukan memiliki nilai terbaik. Apalagi trah keluarga pun sangat mendukung. Nama ayah jadi pendongkrak popularitas seorang pemimpin.  Masih ingat, kiprah ayah Dodi Reza mampu membangun Musi Banyu Asin dan dikenal sebagai Gubernur Sumatera Selatan. Sedangkan kapabitas personal Dodi Eeza tidak diragukan lagi dalam kepemimpinannya, lantaran sudah dua periode di DPR pusat.
Ruang-ruang publik dalam media massa jadi ruang ekspresi. Tak bisa lepas dari berbagai manuver, taktik, dan strategi politik yang digelar oleh elite politik. Teknik “pemasaran politik” dengan mengemas “citra” tentang sosok calon kepala daerah dalam praktek politik citraan (politics of image). Di daerah, para calon pemimpin masih menyakini media massa sebagai pemegang kendali utama pemberitaan. Di sana, kekuatan media yang sangat diperhitungkan, karena mampu menciptakan opini publik. 
Politik sering menempatkan media massa, sebagai area “pertarungan”. Media memiliki kekuatan penuh untuk memutuskan informasi mana yang seharusnya diketahui publik atau tidak. Kondisi ini menempatkan media sebagai pembentuk citra. Hal ini menjadikan berita terus mengalami redefinisi sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
          Realitas telah berubah menjadi komoditas yang dikemas, didaur ulang dan dimaknai kembali. Tentu, wajar jika hampir seluruh media memberitakan hal yang sama dan dari sumber berita yang sama. Dalam pemberitaan masalah pilkada langsung, hampir setiap media utama, yakni cetak maupun elektronik memberikan porsi ruang dan waktu untuk diulas. 
Dalam konteks komunikasi politik, peran media dalam mengulas pilkada langsung tak sebatas hanya pada masa kampanye saja. Boleh dikatakan konstruksi citra politik justru dibangun terus-menerus mulai pendaftaran calon kepala daerah dalam berbagai ruang publik yang disediakan media massa. Citra secara sadar atau tidak merupakan dua hal yang terus diusung media. Efek dari komunikasi politik telah melahirkan keberpihakan media.
Media massa, yakni surat kabar maupun televisi, sebagai konstruki kultural dan  ideologi. Media massa menggunakan kerangka tertentu untuk memahami realitas sosial. Menurut Eriyanto, lewat narasinya, surat kabar menawarkan definisi-definisi tertentu mengenai kehidupan manusia: siapa pahlawan, siapa penjahat; apa yang baik dan apa yang buruk bagi rakyat; apa yang layak dan apa yang tidak layak untuk dilakukan oleh seorang pemimpin; tindakan apa yang disebut perjuangan (demi membela kebenaran dan keadilan); isu apa yang relevan dan tidak.
Narasi yang dibangun dan dipoles sedemikian rupa dengan bahasa, tidak sekedar untuk melukiskan suatu fenomena atau lingkungan. Namun, juga dapat mempengaruhi cara melihat lingkungan kita. Implikasinya, bahasa juga dapat digunakan untuk memberikan akses tertentu terhadap suatu peristiwa atau tindakan, misalnya dengan menekankan, mempertajam, memperlembut, mengagungkan, melecehkan, membelokkan, atau mengaburkan peristiwa atau tindakan tersebut.
Media Massa masih memiliki power luar biasa dalam dunia modern mengingat perannya dalam mempengaruhi opini dan kebijakan publik. Melalui informasi, reportase, ulasan dan investigasi yang disajikan. Tak heran para pemangku kekuasaan berupaya berinteraksi secara sejajar, kalau tidak dikatakan tergantung pada pihak media. Kekuatan media massa untuk mempengaruhi khalayaknya sangat berdampak besar.  Berita bisa menjadikan sebuah partai politik maupun aktor politik yang ada didalamnya mempunyai citra negatif atau positif.


ADE IRAWAN
Magister Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka Semester II
Tahun Akademi 2019/2020 Reguler

Dosen Pengampu
Dr. H. Yuyung Abdi, S.Si., M.Med.Kom
Krisna Murti, S.I.Kom., M.A.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]