Post Page Advertisement [Top]

artikelsaipul

Ganjar Pranowo dan Sepeda




Media massa dan media sosial merupakan salah satu medium komunikasi.
Tergolong sebagai  komunikasi massa dimana proses penyampaian pesannya disalurkan pengelola media maupun pribadi. Perusahaan, misalnya TV, Koran, radio, media online, dan lain-lain, ataupun pribadi seperti media sosial, seperti Facebook, Instagram, twitter, dan sebagainya. Dewasa ini media sosial mulai dipakai untuk sarana pencitraan dengan tujuan untuk mengangkat citra diri seseorang. Medium penyampaian pesan ini tadinya antar individu, akhirnya jadi massal penggunaannya. Peran individu kadang membuat kesan sedemikan rupa sehingga terlihat indah dan memancing emosi pengelihatnya. Kadangkala lebih dibuat lebih dramatis, pesannya dibuat seolah-olah terzhalimi, sehingga menyulut serta membangkitkan emosi para netizen untuk berkomentar dan membelanya. Namun, media dapat dimanfaatkan untuk membunuh karakter seseorang. Citra seseorang pun bisa jatuh akibat berita hoax yang dibuatnya. Tujuannya untuk menjatuhkan serta menimbulkan kesan negatif penilaian publik terhadap pesan hoax yang di postingnya. Sama halnya dengan media sosial, media mainstrem juga dipakai individu ataupun organisasi untuk mencitrakan diri. Opini publik dibangun dalam kemasan berita-berita berbayar atau dikenal dengan sebutan ADV (Advetorial). Ini ada di media mainstream seperti TV, media cetak, ataupun Radio. Jadi iklan dengan kemasan berita tersamar. Bila menggunakan pencitraan seperti ini, orang membayar tergantung tingkatan media, luas dalam halaman maupun berapa kali publikasi. 

         Pencitraan sebenarnya bukanlah sesuatu yang dilarang, prespektif pencitraan tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Tentu  ada sudut pandang lain. Ditinjau dari sisi positifnya, pencitraan biasanya merupakan pesan yang dipublikasi agar semua khalayak tahu bahwa seseorang atau organisasi itu penting bagi penyampai pesan, meskipun dianggap tidak penting bagi media. Dimana sisi tersebut jarang tersentuh media mainstream. Bila disampaikan ke ruang publik, mau tidak mau,  akan merogoh kocek yang bukan sedikit. Apalagi jika pencitraan tersebut di bangun dalam jangka waktu yang panjang atau membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan adanya itu, maka pencitraan di media sosial menjadi pilihanefektif. Lantaran tidak banyak mengeluarkan uang. Namun, bila dilihat dari negatifnya,  maka pencitraan itu terlihat seperti suatu pesan lebai, dan terkesan mengada-ada, karena sebenarnya apa yang tampil di sosial media, bukan dia sebenarnya. Sifat pencitraan biasanya sejalan dengan istilah “Cempedak Berbuah Bilek” artinya saat ingin membutuhkan sesuatu (opini publik yang baik), barulah seseorang atau organisasi tersebut dibuat sedemikian rupa seolah-olah terlihat baik. Misalnya terlebih sebagai sosok sederhana, terlihat sebagai sosok yang lebih memperhatikan bawahan, atau dengan kata lain, merakyat.
         

         Salah satu contoh Pencitraan di media sosial Facebook seperti yang dilakukan oleh Gubernur Jawa tengah, yaitu Ginanjar Pranowo. Existensi Gubernur Ganteng tersebut mulai menjadi-jadi di media sosial, seperti aktor bintang film, Ganjar sangat piawai memainkan perannya. Yang dia lakukan adalah mengunjungi warganya dengan cara bersepeda. Kemanapun ia berkunjung terkesan selalu menggunakan sepeda, bahkan melihat proses pembangunan di wilayah kota Jawa Tengah pun terkadang ia tetap memakai sepeda. Biasanya di iringi oleh beberapa orang terdekat beliau, kesan merakyat serta kesederhanaan.  Yang Ganjar bangun sangatlah pas dengan situasi dan kondisi emosional masyarakat publik indonesia saat ini. Yakni, menginginkan sosok pemimpin yang merakyat atau dengan istilah peduli wong cilik.

         Kebiasaan serta hobi bersepeda, Ganjar Pranowo S.H, M.I.P yang juga mantan anggota DPR RI priode 2004-2009 ini, kini mulai di publikasi melakui akun Media sosial milik pribadinya atas nama Ganjar Pranowo. Seperti Facebook, Instagram, dan Youtube. Rata-rata pengikut hingga 700rb an ini. Media sosial ini tujuan agar para warganet diseluruh Indonesia bahkan diluar negeri pun dapat melihat serta mengetahui lebih dekat siapa sebenarnya sosok seorang Gubernur Jawa Tengah ini.
Jika dilihat dari pengikut serta subscribernya, maka pemilihan media sosial yang di pakai Pak Ganjar Pranowo untuk mencitrakan dirinya, sangatlah tepat dan efisien.

Warganet Indonesia berdasarkan situs websindo tercatat 150 jt lebih yang menggunakan media internet untuk mengakses media sosial pada Januari 2019 yang lalu dan terus bertambah hingga saat ini.
Hubungan realitas antara pesan pencitraan Ganjar ini dengan tampilan Gubernur, sangatlah berbanding terbali. Seorang gubernur itu biasanya dalam kesehariannya  diantarjemput menggunakan kendaraan mobil dinas. Mobil mewah keluaran terbaru. Namun tidak demikian dengan sosok Gubernur Jawa Tengah ini, ia memilih bersepeda yang memang secara kebetulan sudah merupakan hobbi beliau.
            
SAIPUL, S.I.Kom
061901005
Magister Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka Semester II
Tahun Akademi 2019/2020 Reguler

Dosen Pengampu
Dr. H. Yuyung Abdi, S.Si., M.Med.Kom
Krisna Murti, S.I.Kom., M.A.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]