Post Page Advertisement [Top]

artikelwansori

Citra Public Figure dalam Media


Cara pencitraan seorang public figure sangat berbeda dengan cara pencitraan ordinary person. Lantaran pencitraan dilakukan oleh seorang public figure dapat dilakukan dengan mudah untuk tersebar melalui medium utama maupun media sosial.  Popularitas public figure membuat apa yang dilakukannya selalu diburu berbagai media utama, yakni televisi dan media cetak. Hal tersebut disebabkan public figure memiliki nilai jual  sangat tinggi dan banyak ditunggu oleh publik. Kini, media utama membutuhkan media sosial ataupun sebaliknya media sosial menggunakan media utama. Media Youtube, Instagram (IG), Facebook (FB), Twitter, WhatsApp, Telegram. Media luar ruang juga ikut andil dalam penyampaikan pesan, seperti spanduk, baliho maupun leaflet. Media ruang luar ini memiliki karakteristik tertentu dalam memberi informasi. Orang ternama jarang menggunakan ini untuk sosialisasi, kecuali disewa untuk produk dan acara. 

Jika seorang ordinary person (orang biasa) melakukan pencitraan, biasanya terkesan sangat lambat tersebar di masyarakat, sehingga butuh penetrasi intens. Dalam mengangkat popularitas sangat dipengaruhi oleh media yang digunakan, jenis informasi yang diedarkan, penting atau tidaknya dan besaran atau berkaitan dengan jumlah yang disebarkan. Bagi masyarakat awam media cetak sudah tidak populer lagi, mereka banyak menggunakan facebook, IG dan WhatsApp 
Seorang public figure yang mencitrakan dirinya dan sangat mudah diterima dimasyarakat melalui media pertelevisian, media cetak dan sosial media adalah seorang Presiden dalam menyampaikan pencitraannya  dengan cara naik motor bersama beberapa orang disaat masyarakat sedang gandrung menunggu pertandingan sepak bola piala dunia. Pencitraan tersebut hingga kini, masih banyak masyarakat yang menyimpan rekaman itu. Tren media yang senantiasa sering digunakan untuk pembentukan citra dan identitas  seorang public figure, tidak hanya presiden. Tapi mulai dari tinggkat gubernur, bupati/walikota hingga lurah.
Alasan dipilihnya video sebagai media penyebaran informasi? Lantaran video, yakni youtube dan televisi masih menduduki peringkat tertinggi dalam penyebarluasan informasi pencitraan seseorang dalam bentuk gambar bergerak. Apalagi di era digital, hampir semua informasi yang dibroadcast melalui televisi, juga disebarkan oleh media sosial, sehingga setiap pencitraan yang dilakukan oleh seseorang akan dengan cepat diketahui publik. 
Pendapat penulis tentang terpilihnya media televisi, karena media tersebut mampu menjangkau seluruh rumah tangga, diperkotaan hingga pedesaan. Meski televisi kian ditinggalkan, tapi beberapa kelompak masyarakat masih menggunakan. Misalkan lanjut usia, dan tak terbiasa menggunakan gadget maupun di daerah pedesaan. Media televisi disamping sebagai media informasi tetapi juga sebagai media hiburan yang selalu setia hadir ditengah-tengah keluarga dan perkantoran. Memiliki acara yang ditunggu-tunggu pemirsa. Ditengah-tengah acara, pemirsa sekaligus menikmati iklan  yang dicitrakan. Namun, untuk menggunakan media televisi dalam membangun citra pribadi sangat dibutuhkan dana yang tidak sedikit.
Hubungan realitas yang dicitrakan dengan keadaan sebenarnya tentu saja berbeda, karena pencitraan itu dibangun demi untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Masyarakat dapat melihat kebaikan seseorang tersebut sebagai jati diri yang sebenarnya. Padahal keadaan tersebut sudah dikondisikan sedemikian rupa, agar tampak sebagai pribadi yang diidolakan. Menjadi pribadi yang seakan-akan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan. Walaupun begitu, setiap orang dapat mencitrakan diri sesuai dengan realitas kehidupannya atau juga yang hiperrealitas.  Membuat pencitraan itu berbeda dengan kehidupan realnya. Sebaliknya, ada juga orang yang memang menampilkan apa adanya sebagai pribadi yang luhur, baik, taat kepada ajaran agama, sayang dan perhatian terhadap ibu kandung dan keluarganya. Artinya pencitraan itu bukan dalam bentuk setting atau rekayasa. Dibuat untuk menutupi kekurangannya 
Adapun aspek yang sering dicitrakan adalah ketaatan seseorang dalam melaksanakan perintah agama dan penguasaannya terhadap ajaran agama. Tentu saja, masyarakat sangat terkesan terhadap figure tersebut sebagai orang baik-baik. Tidak mungkin berkianat kepada ummat atas semua kepatuhan beragamanya. Termasuk perhatian terhadap ibu kandung, keluarga dan masyarakat miskin. Jadi jika seseorang mampu mencitrakan dirinya sebagai orang yang taat beribadah, sayang dan patuh kepada orang tuanya kemudian mencintai keluarganya, maka dapat dipastikan oleh masyarakat bahwa orang tersebut sebagai orang yang layak  untuk memimpin, karena dianggap memiliki pribadi yang sempurna.
Pesan senantiasa disampaikan dalam rangka mencitrakan diri calon pemimpin adalah membuat warga sejahtera. Memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan dasar, membantu keluarga kurang mampu, menigkatkan peluang lapangan kerja, meningkatkan pembangunan disegala bidang termasuk didalamnya pemasangan listrik ditingkat pedesaan, meningkatkan akses layanan bidang kesehatan, keamanan dan ketertiban. Adapun kesesuaian dan pesan yang dikemas terhadap media sangat apik dan rapi, maka sulit bagi pemirsa tayangan tersebut untuk tidak mengakui performa kebaikan pribadinya.


N a m a                       : Wansori Daya D, SKM
N P M                                     : 061901002
Mahasiswa                  : Magister Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka 
Dosen Pengampu        : Dr. H. Yoeyoeng Abdi, S.Si. M.Med.Kom
                                                      : Krisna Murti, S.I.Kom., M.A.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]