Post Page Advertisement [Top]

artikelyuyung

Fenomena Transaksi Online Ketika Wabah Covid-19



Sejak kerumunan orang dilarang, tempat hiburan di tutup, hajatan dibubarkan, acara panggung ditiadakan, maka setiap orang mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Fenomena wabah covid-19 membuat masyarakat mencari cara lain guna memenuhi kebutuhan hidup.  Begitu juga, perempuan penjual jasa seks, tak kehilangan akal mencari pelanggan ketika tempat hiburan merea ditutup dengan waktu yang tidak pasti. Mereka menggunakan kembali aplikasi Twitter untuk EXPO maupun MiChat dan WeChat untuk Booking Out. Ketika kasus Vanesa Angel mencuat, pihak berwajib mengancam pengguna WeChat yang membuka open booking. Serta-merta kata-kata BO (Open Booking) menghilang di MiChat. Begitu juga gambar perempuan seksi. Pada saat ini mereka kembali lagi menggunakan media transaksi WeChat maupun MiChat, apalagi situasi wabah corona seperti ini. Kata-kata “BO”, “OP”, “COD”, “OB, Open, Khusus Serius, NO PHP, no Basa basi, Excld, Ready, Vcall, Vc, no Bacot kembali marak di MiChat dan WeChat. Di layanan ini perempuan menawarkan langsung to the point, massage maupun VC. 



Perempuan pekerja seks ini dalam situasi ini beruntung apabila ada yang masih jadi peliharaan. Lantaran kebutuhan utama masih terpenuhi orang yang “menyimpan”nya. Walaupun, ia bisa “ngecer” mencari tambahan pendapatan dari laki-lai lain. Namun, apabila independent tidak memiliki “pacar”, maka ia harus menggunakan transaksi online untuk memperoleh pendapatan utama. Perempuan penjual jasa seks yang tempat kerjanya di massage maupun ruko prostitusi terselubung, menjadikan pelanggan sebagai “ATM” dalam situasi ini. Mereka tetap membuka transaksi secara pribadi dengan pelanggan yang biasa dilayani di tempat kerjanya sebelum di tutup. Sedangkan untuk mendapatkan tambahan uang, mereka menggunakan aplikasi online sebagai alternatifnya. 
Saat wabah Covid-19, saya berada di empat kota. Ketika saya buka MiChat di empat kota yang saya singgahi, dalam radius 1 km, perempuan yang menjajakan diri medium ini begitu banyak. Padahal penipuan kerap terjadi di aplikasi ini. Lantaran laki-laki mentransfer duluan sebagai tanda jadi transaksi seks. 
Penipuan banyak terjadi di MeChat ini, tidak dibayar COD (Cash on Deleviery), tapi dibayar tanda jadi bookingdengan cara transfer terlebih dahulu. Mereka seolah-olah memberi meyakinkan bahwa laki-laki yang memberi DP (down payment) adalah orang yang benar-benar mau booking. Padahal itu gretakan dari sindikat penipuan.

Tiga orang di datang di hotel wilayah karesidenan Madiun, tempat saya menginap. Ada tiga laki-laki tertipu, dengan waktu dan orang berbeda. Laki-laki pertama langsung menuju ke depan kamar 105. Di ketok-ketok pintunya, tapi tak kunjung keluar perempuan di kamar. Di ketuk lagi, tapi juga tak juga menunjukkan ada penghuni. Mendengar suara itu, petugas hotel menghampiri laki-laki ini. Awalnya tidak mau menjelaskan apa yang baru saja dialami, tapi karena didesak, maka ia menjelaskan bahwa baru saja mem-booking perempuan via MeChat, dengan no kamar dan nama hotel yang disertakan. Si Resepsionis menjelaskan bahwa sudah ada dua orang yang mengalami nasib penipuan serupa dalam sehari ini. 

Modus penipuan ini senantiasa terjadi ketika foto dalam akun terdapat perempuan cantik dan seks. Tapi, jika cuman satu foto saja, bisa jadi unsur menipunya begitu besar. Guna verifikasi kebenarannya, bila akun tersebut terdapat beberapa foto aktivitasnbya. Itu pun belum benar, ketika akun ini menggunakan beberapa foto, tapi antara satu foto dengan foto yang lain menggunakan wajah tidak sama maka bisa dicurigai, bahwa akun itu palsu. Mereka kadang juga mengelabuhi dengan transaksi dengan berbagai akun. 
Perlu diketahui, mereka seolah-olah menggunakan orang sebagai manajernya. Bertugas seolah-olah mengumpulkan uang dari pemakai jasa seks. Akun-akun ini dibuat oleh seorang laki-laki dengan menggunakan beberapa nomer hape. Cara untuk membuktikannya adalah dengan VC (Video call).

Dr. Yuyung Abdi 
Kepala Program Studi
Magister Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]