Post Page Advertisement [Top]

artikelwansori

Historis Media dalam Media Chain (1)

Cara masyarakat mendapatkan informasi sedang mengalami perubahan secara besar-besaran. Media utama memposisikan diri sebagai media terpercaya, legitimasi, maupun lebih detail dan memiliki badan hukum. Sebagian besar pelajar hingga mahasiswa hampir tidak lagi mengenal media cetak, mereka mendapatkan informasi cukup mengandalkan media online maupun jejaring sosial. Saat ini, media utama berebut pasar pembaca dengan media online maupun media sosial. Ritual keluarga nonton bersama acara TV sebagai hiburan telah tergantikan  youtube secara individual lewat ponsel masing-masing. Cengkrama keluarga telah berubah kepada kehidupan individual. Tentu saja,  semakin menjauhkan diri yang dekat dan mendekatkan diri yang jauh. Kemunculan media sosial sebenarnya menjadikan hubungan interaksi dua arah. Menghubungkan antar individu, kelompok melalui media. 
Ketika media sosial jadi populer, maka semua orang yang sebelumnya pernah kenal atau bahkan belum saling mengenal, terhubung kembali ataupun menjalin hubungan baru melalui sistem jaringan media sosial . Orang menawarkan jasa atau barang, memposting foto kegiatan pada saat sedang melakukan perjalanan maupun sesudahnya Ada juga menggunakan social media mempengaruhi ideologi media sosial lain. Media sosial juga dapat digunakan untuk mengundang orang-orang yang ada dalam sistem jaringan, komunitas, sahabat, tetangga, keluarga dan masyarakat umum. Memobilisasi orang pada  suatu tempat dan waktu yang sudah disepakati melalui  penyebaran informasi, serta dapat melakukan interaksi berkelanjutan dalam inbox chat. Kini, media sosial juga digunakan untuk mempengaruhi orang, propaganda, memaksakan prinsip, penyebaran ideology disamping pem-bully-an. Media sosial digunakan sebagai sarana perang informasi antar pemilik kepentingan. Menguatkan kelompoknya, membela orang yang sepaham dan menyerang pihak yang berseberangan. Ini yang disebut dengan buzzer. Sekarang buzzer jadi pekerjaan, karena mereka mendapatkan order dengan kontrak nilai mahal.
Kebutuhan masyarakat terhadap informasi begitu tinggi, dapat melahirkan peluang bisnis bagi penyedia informasi. Berbagai informasi sesuai dengan keinginan masyarakat, dikemas dengan berbagai cara. Mereka mendapatkan keuntungan dari pengiklan online maupun provider. Perubahan dalam memperoleh informasi sangat bergantung terhadap bagaimana perusahaan media beradaptasi dengan perkembangan teknologi saat ini.  Oleh sebab itu, media informasi menjadi produk massal yang bisa masuk ke setiap individu & setiap individu bisa menjadi media dalam menyebarkan informasi. 
Sebelum tahun 2014, sumber informasi masih didominasi oleh media cetak jenis Koran, menyampaikan berbagai informasi dan berita yang dikemas menarik dengan menampilkan opini, hiburan dan informasi yang diganderungi oleh khalayak sebagi sasaran informasi. Pembuat berita dahulu memiliki ilmu tentang jurnalistik, sehingga berita atau tulisan yang disajikan sangat menarik dan membuat masyarakat benar-benar disuguhi informasi yang berkualitas, akan tetapi sekarang ilmu jurnalistik tidak lagi menjadi penting karena penulis berita sering kali mengcopy berita dari media lain dengan cara memodifikasi seperlunya. 
Kendati demikian media pertelevisian telah merebut hati pemirsa semenjak awal kelahiran TV swasta di Indonesia. Sejarah perkembangan dunia pertelevisian di Indonesia tidak terlepas dari sistem kelistrikan sebagai sumber energy. Sebelum ada program listrik masuk desa di era 80an, masyarakat serta merta dapat nonton bareng di perkantoran atau di rumah orang tajir atau tokoh. Maklum, TV kala itu jadi barang mahal dan harus memiliki genset atau listrik. Genset atau batre (accu) yang berkapasitas besar berfungsi menghidupkan televisi dengan dua warna. Heeheee, yakni hitam dan putih. Kadang, demi untuk meningkatkan daya tarik penonton terkadang televisi dipasang kaca tiga warna merah, kuning dan sedikit hijau dengan tujuan agar cahaya yang keluar dari layar televisi tidak terlalu tajam dan sedikit memberi warna pada gambar yang dipancarkan. Seiring waktu berjalan hadirnya Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) memudahkan masyarakat untuk bisa menikmati acara-acara yang ditayangkan pada malam hari hingga pukul 24:00 WWBI. Pada siang hari PLTD tidak dinyalakan untuk wilayah-wilayah tertentu.  
Awalnya isi tayangan televisi masih belum banyak memberi pengaruh terhadap perkembangan budaya di masyarakat. Channel yang masih terbatas.  Memasuki era 90-an kepemilikan pesawat televisi mulai menjadi gaya hidup sehingga hampir setiap rumah tangga seakan berlomba untuk memiliki barang mewah (ketika itu) dengan jenis dan berbeda sesuai kemampuan dan selera masyarakat. Menjelang pertengahan tahun 90-an saluran televisi swasta sudah mulai mertebaran sehingga menjadi persaingan bisnis tersendiri bagi media. Iklan pun mulai bersaing untuk merebut perhatian masyarakat terhadap produk-produk yang ditawarkan. 
Perubahan sosial akibat teknologi informasi dan komunikasi secara pesat mengalami perubahan sosial terjadi terus menerus. Perubahan pada struktur sosial yang satu, berbeda dengan lainnya. Yang mengubah masyarakat bukan hanya isi pesannya, tapi pertama-tama adalah medium pesannya. Yakni, bagaimana kehadiran televisi mengubah perilaku audiens. Ruang dimana televisi berada, jadi tempat berkumpul keluarga. Setelah era televisi. Semakin baik taraf hidup, kepemilikan televisi dalam satu rumah lebih dari satu. Televisi tidak hanya dalam ruang keluarga. TV ada di setiap kamar. Channel TV tidak hanya satu. Pilihan channel lebih banyak berdasarkan kesenangan masing-masing anggota keluarga sesuai tingkatan usia dan pendidikan, dan bahkan juga disesuaikan dengan kegemaran anggota keluarga sesuai musim, misalnya musim pertandingan bola.
 Kini, media pertelevisian jadi bermetamorfosis. Kelahiran media social yang awalnya dianggap remeh-temeh, justru akhirnyna dibutuhkan media TV berpromosi maupun preview. TV melalui media sosial melebarkan sayapnya guna memenuhi kebutuhan siaran tunda. Misalnya siaran langsung pertandingan bola atau acara debat tentang Capres.  Masyarakat yang tidak bisa menonton langsung dapat menikmatinya di channel youtube. Bisa juga diakses melalui facebook maupun media social lain. Ini merupakan metamorphose media televisi dalam rangka tetap survive di era digitalisasi. Ini salah satu upaya di jaman milenial, agar TV tidak ditinggalkan pemirsanya.

Wansori Daya D
061901002
S2 Komunikasi Stisipol Candradimuka

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]