Post Page Advertisement [Top]

artikelyuyung

Belanda Ibukotanya Amsterdam, Jakarta Ibukotannya Tenggelam

Peta banjir Jakarta awal tahun 2020, kali ini berbeda dengan sebelumnya. Beberapa yang belum pernah terdampak, akhirnya mengalami pula. Diluar dugaan, Bandara Halim Perdana Kusuma juga dilanda banjir. Dalam laporan TV one, Nandang Sukarna, Eksekuti General Manager (EGM) Bandara Halim Perdana Kusuma menyatakan Bandara Halim terendam air 30 cm. Belum dijelaskan apakah termasuk landasan pacu (runway), apron atau juga tempat check in. Bandara ini sudah kembali normal beroperasi dengan mengangkut 13.631 penumpang, Kamis, 2 Januari 2020.

            Peristiwa yang tidak pernah diprediksi saat banjir sebelumnya. Yakni,  terjadi kebakaran saat banjir sewaktu listrik dipadamkan. Kedua, meninggal karena mengirup zat CO & CO2 dari genset yang digunakan. Ketiga, meninggal tersengat listrik. TV One dini hari, 3 Januari 2020 , disusul Detik.com memberitakan satu keluarga tewas, suami Istri dan dua anak akibat keracunan asap genset, di Kayu Mas Selatan, Kawasan Pulo gadung.  Mesin genset ini dipakai saat listrik padam. Korban meninggal akibat menghirup CO & CO2 dari sisa pembakaran. Peristiwa lain, kebakaran diduga, disebabkan lilin, terjadi di kawasan Kampung Pulo. Pasangan suami istri meninggal saat tertidur. Kondisi istri hamil 5 bulan. Ketika kawasan ini masih dilakukan pemadaman listrik saat banjir. Sebagian masyarakat menggunakan penerangan pengganti, yakni lilin. Terjadi juga kebakaran di pemukiman Gunung Sahari, menyebabkan dua belas  rumah terbakar. Karena lokasi ini masih terendam banjir, maka dilakukan pemadaman listrik. PLN memang melakukan pemadaman untuk antisipasi tersengat listrik saat banjir. Sebanyak 2900 gardu dipadamkan. Selanjutnya listrik dinyalakan setelah tidak ada genangan. Hanya 800 titik yang masih padam pada 2 Januari 2020, karena masih ada genangan. Berita terakhir, 5 orang meninggal akibat tersengat listrik. Penyebab kematian akibat banjir, terbawa arus, hiportemia, terbakar, tersengat listrik, tertimbun tanah longsong maupun keracunan asap.

            Kemarau panjang, tiba-tiba hujan. Semua pihak siap antisipasi. Tanggal 17 Desember 2019, sebenarnya telah terjadi hujan yang menyebabkan jalan protocol di Jakarta, banjir. Meskipun akhirnya surut dalam beberapa jam. Prediksi cuaca BMKG memang terjadi di bulan Januari-Maret. Hanya saja anomali cuaca dengan hujan ekstrem, tidak pernah dibayangkan. Intensitas hujan lebih besar, 

            Parodi yang dikirimkan grup whatapps, Belanda ibukotanya Amsterdam, Jakarta ibukotannya tenggelam. Meskipun Jakarta hanya 18 persen daerah yang terkena banjir, tapi dampak berita di luar, Jakarta tenggelam. Apalagi lebih dari 46 orang telah meninggal dari laporan m.detik.com, nasional.kompas.com dan detikNews.com. Sedangkan kompas TV melaporkan 50 orang meninggal.

            Persoalan banjir memang sangat dimensional. Penyebabnya adalah persoalan makro dan mikro. Persoalan makro, tidak memiliki tempat penampungan air, bila terjadi luapan air hujan intensitas tinggi. Hampir semua tempat digunakan sebagai tempat pemukiman. Tidak disisakan tanah kosong untuk pembuatan waduk sebagai penampungan air. Sungai sudah cukup dangkal. Di pinggir sungai dipadati perumahan liar. Sudah tidak ada lagi tanah sebagai tempat penanaman pohon yang menyerap air. Persoalan mikro, pembuangan sampah selalu di sungai. Meskipun sebenarnya, penyebab banjir di Jakarta bukan hanya karena persoalan pembuangan sampah, tapi lebih jauh dari itu. Daerah resapan air tak lagi ada, pegunungan telah berubah peruntukannya. Sungai pun dangkal. 

            Masyarakat telah menyaksikan bahwa air bisa menyeret apapun yang dijumpai dalam jumlah besar. Mereka telah melihat mobil-mobli yang terseret air banjir bandang. Rumah yang terendam banjir dengan hampir barang elektronik teremdam dan tak bisa digunakan. Bagaiman kita melihat  video dan foto, para relawan membawa bayi di dalam bak. Orang-orang sakit yang diselamatkan. Ada warga yang bertahan di rumah tingkat yang dikepung banjir. Tapi, sudah dua hari air tidak cepat surut, sehingga bahan makanan makin lama makin berkurang. Baru lah mereka meminta pertolongan untuk dievakuasi. Apalagi keadaan tidak ada penerangan di dalam rumah mereka, karena listrik harus dipadamkan. Kadang, area yang mencapai 1-1,5 meter membuat masyarakat sekitar, tidak bisa menjangkau area perumahan yang dikepung banjir. 

            Beberapa tempat banjir telah surut. Mobil-mobil ditemukan bertumpuk dan berserakan, lengkap dengan lumpur yang menyertai. Lumpur tidak hanya menutup jalan, tapi juga masuk dalam rumah. Pemilik rumah pun sulit membersihkan saat air bersih sulit ditemukan. Mereka pun butuh bantuan alat pembersih. Kebutuhan air bersih masih untuk minum. Pengungsian terjadi. Lebih dari 400 ribu orang mengungsi untuk mendapatkan bantuan. Korban banjir kadang tidak memiliki apa apa lagi saat rumahnya terendam. Mereka pun butuh selimut, air bersih, baju layak pakai, obat-obatan, alas tidur. Meskipun sebagaian ada yang memiliki keluarga di tempat lain. Pada fase ini, warga mengalami sakit, diare maupun batuk. 

            Fenomena penangana banjir di Jabotabek, jadi perdebatan antara pemerintah pusat dengan pemeritah DKI. Yakni, naturalisasi dan normalisasi. Naturalisasi berkaitan dengan alam. Mengembalikan lebar sungai, penanaman pohon di pinggir sungai. Sedangkan normalisasi, salah satunya pembuatan dinding beton (sheetpile) pada sisi sungai. Di Jakarta, mengembalikan ke alam, seperti sulit dilakukan. Hanya sekedar wacana. Potensi bencana sudah dirasakan. Kebutuhan waduk di hulu yang sudah dalam tahp penyelesain dibutuhkan, drainase, maupun tata ruang kota, ruang terbuka hijau dibentuk. Pernyataan pemimpin di televisi, terlihat memiliki persepsi dan kepentingan sendiri-sendiri. Penanganan hulu dipercepat, sedangkan hilir tidak pernah mau menerima apa diinginkan pemerintah pusat, karena memiliki pandangan sendiri. Salah satunya terganjal dengan janji tidak menggusur rumah dipinggir sungai di Jakarta. Padahal, dibutuhkan pelebaran sungai dan pengerukan terus menerus. Pimpinan DKI hanya sekedar memberi pemikiran dan mengedepankan ego dalam wawancara TV One, 3 januari 2010, bukan penanganan dan analisis yang matang. Ya hanya sekedar performa gagasan dan pandangan.


Dr. Yuyung Abdi. SSi., M.Med.Kom
Kepala Program Studi Magister Komunikasi 
Stisipol Candradimuka Palembang

1 comment:

  1. Satu lagi kajian yang banyak terlewatkan, yakni penimbunan terhadap lembah yg seharusnya menjadi kantong air, pengecoran permukaan tanah yang seharusnya menjadi pori-pori tanah sebagai saluran penyerapan air tanah, kemudian penimbunan laut yang dilakukan banyak negara sebagai ekspansi lahan daratan atau pulau untuk lerluasan kota mereka. Nah, karena permukaan air laut semakin meninggi sebagai efek rumah kaca dan runtuhnya gunung es yang berada dikutub antartika ditambah lagi dengan memburuknya budaya masyarakat dalam berbagai bidang misalnya membuat bangunan dipinggiran badan air sungai, air laut yang banyak membutuhkan penutupan jalan air, membuang sampah dalam sekala besar, penebangan hutan, pembakaran hutan yang berdampak pada runtuhnya pegunungan-pegunungan sebagai paku bumi maka tidak dapat terbendungkan lagi jika dimana-mana kasus banjir banyak melandan permukaan bumi kita....

    ReplyDelete

Bottom Ad [Post Page]