Post Page Advertisement [Top]

artikelpanji

Strategi Transformasi Konvergensi Media Harian Pagi Sumatera Ekspres di Era Disruption

Media cetak di Sumatera Selatan, hampir semua goyah di era Revolusi Industri 4.0, tidak hanya Sumatera Ekspres Daily News. Sebagai salah satu media terbesar di Sumatera Selatanoplah koran Sumatera Ekspres (Sumeks) sempat menurun drastis. Harian Pagi Sumatera Ekspres berkantor di Kelurahan Karya Baru Kecamatan Sukarame, Jalan Kolonel Barlian No 773 Km 6,5 Palembang tepatnya bersebelahan dengan objek wisata Hutan Punti Kayu. Sumeks yang didirikan pada tahun 1962 dan merupakan anak kandung Jawa Pos Grup.
            Perkembangan teknologi terus berkembang, membuat khalayak dipermudah dalam berbagai hal. Segala kemudahan sangat cepat diperoleh semua orang. Masyarakat  memiliki banyak kebutuhan akan merasa terbantu dengan banyaknya perubahan yang terjadi. Era ini disebut sebagai era Disrupsi. Banyak cara dilakukan media dalam menghadapi era disruption ini. Dalam menghadapi persaingan media dibutuhkan sikap antisipatif atas sejumlah prediksi para pakar tentang masa depan surat kabar. Untuk itulah sangat diperlukan creative content, mulai dari memikirkan konsep produka, membuat prototipe, dan menjadikan lebih menarik, informatif, menghibur, terpercaya dalam penyampaian berita. Senantiasa mencari inovasi yang tepat dalam persaingan sengit dengan media cetak lain bahkan jurnalisme online.
Dulu, media cetak Sumeks setiap kabupaten di provinsi Sumatera Selatan memiliki percetakan sendiri, kini hanya ada beberapa percetakan di kabupaten atau kota tertentu sesuai dengan pengelompokan wilayah dan jarak.
            Sumeks akhirnya melakukan konvergensi media. Transformasi media cetak menuju konvergensi adalah  solusi. Banyak pemimpin media baru menyadari bahwa kebutuhan konvergensi media sangat dibutuhkan. Keterlambatan menyebabkan keterpurukan. Sumeks membuat laman “sumeks.co”. Pertama, menampilkan berita di koran Sumeks tapi tetap menggiring pembaca untuk membaca koran yang dicetak. Kedua, Sumeks juga meluncurkan aplikasi My Edisi untuk memudahkan pembaca melihat informasi-informasi yang disuguhkan Sumeks. Ketiga,  Sumeks juga merambah ke berbagai bidang usaha seperti Event Organizer. Usaha ini untuk menopang kelancaran kegiatan penerbitan dan memastikan agar Sumeks tetap hidup. Keempat, Sumeks yang dalam merangkul generasi milenial ada kolom Zetizen rubrik khusus anak muda  yang awalnya terbit setiap hari kini hanya seminggu sekali. Sangat kurangnya minat baca anak muda pada media cetak, membuat Sumeks terus berinovasi. Dengan merangkul anak muda untuk bisa lebih dekat dengan membuat event antar sekolah. Memberikan informasi seputar lifestyle  melalui media sosial Instagram dan Youtube dimana masing-masing media sosial ini saling berkaitan dengan media cetak agar generasi milenial tidak melupakan media cetak.
            Saat ini penerbit media cetak sadar, media cetak, sudah dianggap media massa konvensional, terancam eksistensidan keberadaannya. Lantaran berbagai informasi yang semula dikuasai media cetak, kini dengan mudah diliput masyarakat tanpa terikat ruang dan waktu. Lebih menarik, adanya keunggulan segi kecepatan dan informasi variative. Ini  yang diramalkan bakal menggantikan media cetak. Jurnalisme warga (citizen journalism) juga memaksa media tradisional mengubah pola pikir sebagai satu-satunya alternatif penyampai "kebenaran". Dengan teknologi digital saat ini setiap orang bisa dengan mudah menyampaikan dan menyebar luaskan informasi. Ini menjadi tantangan, serangan ini tidak kalah dahsyatnya bagi media konvensional khususnya jika ingin tetap hidup. 


Panji Prasetyo
Mahasiswa S2 Magister Ilmu Komunikasi
Stisipol Candradimuka Palembang

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]