Post Page Advertisement [Top]

artikelyuyung

Sex, Gender dan Seksualitas

Orang beranggapan sex, gender dan seksualitas adalah tiga hal yang sama. Padahal, seks itu menyangkut perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, meskipun jenis kelamin laki-lak bisa ditransformasikan menyerupai jenis kelamin perempuan. Sedangkan gender dikontruksi secara psikologis, social maupun budaya. Seksualitas menyangkaut orientasi seksual, yakni sexual desire (keinginan seksual). Tidak selalu jenis kelaminnya perempuan, maka gendernya mesti perempuan dan orientasi seksualnya sebagai heteroseksual (menyukai lawan jenis). Pendapat ini akhirnya direvolusi oleh Judith Butler dalam bukunya Second Sex. Bahkan, seks yang selama ini dianggap natural, itu ternyata tidak. Bahwa kita jadi laki-laki atau perempuan karena kita melakukan aksi berupa performance. Apa yang dilakukan perempuan, berulang-ulang, akhirnya mempercayai itu. Sehingga itulah yang membentuk identitas gendernya. 

Pada kasus trans gender awalnya itu laki, dragqueen, orang laki berdandan menor seperti perempuan. Maka indentitas itu tidak selalu tetap, tergantung bagaimana seseorang mempresentasikannya. Chris beasley dan Judith bulter menggunakan istilah yang hampir sama dalam memahami identitas free floating ataupun liquid, menunjukkan hal yang tak pernah stabil, tidak esensial.

Manusia tidak lagi sebagai subjek, tetapi manusia itu sebagai objek. Dalam postmodernis, kita tidak membentuk, tapi dibentuk oleh lingkungan kita. Lewat lingkunganlah kita dibentuk identitas kita. Seperti bayi lahir. Tidak langsung bisa ngomong, tetapi dibentuk oleh lingkungannya. Butler tidak melihat manusia itu sebagai subjek, tetapi manusia itu sebagai objek.

Dalam identitas selalu merujuk pada hal-hal yang bersifat esensial ini didobrak oleh Butler bahwa identitas itu sangat erat dengan apa yang kita lakukan, yakni performance identity.  Kata kuncinya pada Butler basisnya adalah performance kita. Bagaimana kita bertindak dan berperilaku. Misalnya artis Lucinta Luna memposisikan dan berperfoma sebagai perumpuan dan dilakukan terus menerus, maka public mempercayai dia perempuan, meski kadang terselip suara laki-lakinya. Mereka lakukan berulang-ulang sebagai penanda identitasnya. Bagaimana dia melakukan perform di kehidupan kesehariannya dan kode apa yang ditampilkan.

Tentu saja, ada norma, ada value (nilai)  itu yang membuat seseorang melakukan hal itu. Dengan norma-norma itu kita melakukan secara berulang ulang.. Kadang kadang preform secara berbeda (berubah-ubah) menandai identitas yang berbeda di masyarakat.
Dari konteks ini hubungan ada hubungan Judith Butler dengan Ervin Goffman dalam hal perform. Bahwa identitas itu tidak ada awal atau akhir, tidak stabil, selalu dalam proses terus menerus, tidak pernah dalam titik final. Kalau Goffman hanya menampillkan front stage dan back stage, sementara Judith Butler menunjukkan performance free floating.

Gender trouble menurut Butler, itu menandakan gender bukan suatu yang fix juga. Tergantung performance itu dilakukan dan itu lah yang menunjukkan identitas mereka. Karena gender karena tidak stabil dan sangat post-modernist, karena identitas seks dan gender seksualitas itu  melakukan the play of the signifier, bagaimana penanda-penanda itu bermain. Mereka bermain dalam performance. Permainan apa yang dilakukan itu secara repetitive menandakan identitas mereka. 


Dr. H. Yuyung Abdi, SSi., M.MedKom
Ketua Prodi Magister Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]