Post Page Advertisement [Top]

artikelrio

Perubahan Sosial New Media, New Advertising

New advertising merupakan terminologi yang tepat pada era new media untuk menggambarkan dunia periklanan saat ini. Dalam media sosial terus-menerus mengalami transformasi, sehingga pengiklan meroposisi cara beriklan dengan tetap mencari bentuk agar tetap terlihat khalayak. Awalnya, iklan sebagai jasa promosi yang terselip hanya media utama. Iklan terdapat di berbagai macam media mulai media cetak, media televisi maupun media luar ruang. Iklan media cetak biasanya menghiasi newspaper dimana biasanya disebut iklan baris, iklan kolom maupun display. Sedangkan iklan pada televisi lebih bersifat audio-visual dalam hitungan detik penayangannya. Pengiklan bisa lebih bebas mengeksplore pesan visual agar lebih mudah dipahami masyarakat. Iklan juga bisa terlihat dalam bentuk brosur, baliho, spanduk, atau billboard. Kini, iklan tidak lagi mendominasi media utama. Pada audio visual, iklan singkat dalam video-video streamingyoutube yang terkadang hadir ditengah-tengah video dll. Youtube pun memberi solusi, bila tak ingin diganggu iklan, maka perlu langganan Youtube tanpa iklan.
Sebagai pelaku periklanan biasanya dituntut lebih sensitif terhadap kerjasama dimana iklan seharusnya diletakan pada konten media yang ramai dilihat masyarakat. Biasanya pelaku periklanan akan melihat rating konten terlebih dahulu sebelum akhirya meletakan iklannya, semua dilakukan karna biaya iklan yang terbilang mahal sehingga dituntut untuk mendapatkan feedback dari penjualan produk yang diiklankan. 
Produk-produk berskala besar mungkin bisa saja melakukan penayangan iklan secara kontinu, namun bagaimana dengan produk-produk berbudget minim? Ternyata hal tersebut mampu merangsang pelaku bisnis periklanan untuk memberikan suatu platform budget yang minim, bahkan bisa dibilang tanpa budget. Platform periklanan tersebut awalnya hadir di aplikasi Gojek. Gojek menyediakan banyak penawaran mulai dari ojek online, taksi online, makanan, jasa pijat, dll. Gojek dipersamakan dengan media periklanan karena dianggap medium dimana masyarakat bisa mencari apapun yang mereka inginkan.  Untuk tayang di aplikasi gojek, maka produsen makanan, tukang pijat dll harus membayar 20-30% fee yang didapatkan kepada gojek. Hal tersebut dapat dipersamakan dengan biaya periklanan. Belum lagi jika produk tersebut sedang dalam masa diskon, persentase diskon biasanya dibagi dua antara gojek dan produsen. Jika produk tersebut sedang diskon 20% maka 10 % akan ditanggung produsen dan 10% ditanggung Gojek. Pemberian diskon tersebut dianggap lebih ampuh dari pada produsen harus mengiklankan produk dengan brosur, baliho, atau bahkan iklan radio atau media cetak.
Setelah kemunculan Gojek dengan platform jasa disertai iklan, maka berkembang tidak hanya platform iklan saja, tapi merambah e-wallet atau dompet elektronik yang bisa digunakan untuk membeli produk-produk tertentu dengan diskon atau cashback. Ada sekitar  10 macam e-wallet, yakni GoPay, Ovo, Dana, Link Aja, Jenius, Go mobile by CIMB, I Saku, Sakuku, Doku, Paytren. Banyak khalayak yang berpikir bagaimana cara e-wallet ini meraup keuntungan sementara mereka terus membakar uang dengan cara memberi promo gila-gilaan. GoPay, Dana maupun Ovo mempersamakan dengan media periklanan dimana produk yang ingin bekerja sama dengan metode pembayaran mereka harus mau memberikan diskon atau potongan harga tertentu. Hal tersebut tentu bukan hal sulit bagi produsen mengingat cara itu dianggap lebih ampuh dalam menarik minat konsumen daripada harus mengiklankan produknya dengan media online maupun media utama. Konsumen akan lebih tertarik dengan diskon daripada harus melihat iklan, apalagi iklan itu terlalu sering tayang. Jadi bisa disimpulkan jika promo yang diberikan Gopay, Dana maupun Ovo merupakan promo yang dihadirkan produsen. Dengan kesepakatan perolehan pendapatan seluruhnya atau dibagi dengan pihak aplikasi. Hal tersebut jadi alasan kenapa diskon disetiap produk berbeda-beda. 
Fenomena ini dianggap sebagai pergeseran media periklanan. Fungsinya sama, yakni tetap menarik konsumen. Bila dicermati biaya yang dikeluarkan juga tetap sama  yaitu biaya periklanan dengan biaya pemberian diskon. Setiap produsen pasti memiliki nilai hitung-hitungan mengenai biaya pengeluaran, pemasukan dan periklanan. Hanya tergantung bagaimana pengelolaan biaya periklanan agar benar-benar dapat memberikan feedback.


Rio Perdana Yuda
Mahasiswa S2 Komunikasi
Stisipol Candradimuka Palembang
3 Desember 2019

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]