Post Page Advertisement [Top]

artikelrhandy

Panggung Politik Prabowo

Panggung Politik Prabowo

Masyarakat dikejutkan Prabowo sebagai rival pemilihan Presiden 2019, bergabung di kabinet Jokowi. Prabowo Subianto ditetapkan sebagai Menteri Pertahanan, padahal sebelumnya sebagai calon presiden pada pemilihan umum presiden periode 2019-2024,  menuai perdebatan. 
Hasil pemilihan umum  secara resmi diumumkan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia pada Selasa, 21 Mei 2019 dini hari akhirnya menetapkan pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin dengan perolehan suara 55,50%, diikuti oleh Prabowo Subianto - Sandiaga Uno dengan perolehan suara 44,50%, (sumber: kpu.go.id). 
Namun pesta demokrasi tersebut masih saja meninggalkan kisah menarik akhir-akhir ini. Salah satunya penetapan menteri pertahanan Prabowo Subianto calon presiden pemilihan umum 2019 oleh presiden terpilih  Joko Widodo. Ini disebabkan banyak reaksi, presepsi, opini, interpretasi dan komentar sangat beragam terutama di dunia maya khususnya media social, Instagram, facebook, youtube. Dengan ilmu gotak-gatuk, melahirkan konsep konspirasi dalam negosiasi tersebut.
Hampir di setiap postingan beberapa akun media sosial yang menyampaikan penetapan Menteri Pertahanan, di banjiri komentar-komentar para netizen. Persepsi masyarakat terpolarisasi jadi dua. Ada yang beranggapan bahwa penetapan itu sebagai solusi presiden terpilih menghindari konflik berkelanjutan. Kelancaran kerja kabinet Jokowi tidak terganggu. Para netizen  mengatakan bahwa penetapan tersebut merupakan jalan bagi Prabowo untuk pencalonan Presiden periode berikutnya. Ini sebagai panggung pembuktian untuk presiden dimasa datang dengan memposisikan Prabowo di salah satu posisi vital. Sebelumnya dikementrian ini dijabat Riyamizard Yakudu, sosok  sangat berkompeten bidangnya. 

Bahkan, sebagai bentuk negosiasi, Prabowo subianto mengusung dua kader partai Gerindra   menduduki posisi  kementrian yaitu Kementrian Pertahanan Dan Kementrian Kelautan dan Prikananan (KKP) Republik Indonesia. Termasuk sangat fenomenal adalah kementrian KKP, Puji Astuti. Popularitas dan elektabilitas menteri menjabat sebelumnya mempunyai standar yang sangat tinggi.

Kedepan, tidak ada yang tahu, bagaimana sepak terjang Prabowo, apakah lebih dari sekedar diharapkan Presiden Jokowi atau justru sebaliknya. Masyarakat bisa menilai dari kripah yang dikerjakan. Para netizen atau publik dunia maya seolah-olah dihidangkan presiden terpilih sebagai panggung pertunjukan.  Sosok calon presiden yang menjadi saingan nya selama dua periode ini akan dilihat di panggung pertunjukan itu. Apakah mampu atau tidak menduduki posisi tersebut. Jika Prabowo berhasil, maka yang mendapatkan pujian nya adalah presiden selaku penunjuk menteri. Jika Prabowo gagal melaksanakan tugasnya maka jatuhlah image Prabowo.  Bisa jadi hal itu berimbas kepartainya, bila kembali mencalonkan diri sebagai presiden di periode mendatang. Ini merupakan interpretasi menarik untuk dibahas. 
Terlepas dari semua interpresi yang muncu, maka media  social sangat berperan aktif dalam perubahan social, karena masyarakat dapaat menuangkan pemikirannya dibanding media utama. Padahal yang paling tahu alasan mengapa presiden memilih para menteri adalah presiden dan tim penasihatnya. Apakah ini sebagai cara para buzzer menggiring opini publik demi menguntungkan kepentingan kalangan tertentu ataukah ini merupakan sebuah pilihan sang penguasa untuk membangun bangsa, tanpa pertumpahan darah. Kita bisa menilai  lima tahun nanti, apakah ini demi kepentingan publik ataukah kepentingan pribadi.

Rhandy Fiqqih Alamsyah S.I.Kom
Mahasiswa S2 Stisipol Candradimuka Palembang

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]