Post Page Advertisement [Top]

artikelyuyung

Kajian tentang wawancara Agnez Monica dengan Kevan Kenney

Kajian tentang wawancara Agnez Monica dengan Kevan Kenney dalam acara YouTube BUILD Series, Jumat, 22 November 2019, berangsur-angsur mulai berkurang, meski masih jadi perbincangan hangat. Komentar datang dari netizen, fan, ibu rumah tangga, artis, pejabat, birokrat, akademisi, pengamat tumplek bleg (melt point) dalam setiap upload-an Agnez Mo ini. Pemotongan kalimat wawancara  dan keterlibatan opinion leader dalam menyikapi persoalan ini membuat perdebatan, sehingga melahirkan polarisasi pendapat. Karena fakta dan sosok Agnez tidak seperti itu. Terjadi polarisasi kubu pendukung dan penhujat tetap muncul meski tidak sama saturasinya saat pemilihan gubenur DKI 2017 hingga pemilihan presiden 2019. 

Munculnya  stigma netizen malin kudang, kacang lupa kulitnya, dari perspesi   sepenggal kalimat, “tidak memiliki darah (keturunan) Indonesia”. Kalimat parsial yang tidak mencerminkan keseluruhan isi wawancara itu jadi stimulus respon yang menyerang balik cuplikan Agnez Mo. Netizen yang tak paham, pernyataan itu dianggap tidak memiliki darah Indonesia, berarti bukan orang Indonesia. Dua hal berbeda antara warga negara dengan keturunan. Warga negara sebagai pilihan dan keturunan adalah bawaan, bersifat ascribed status. Persepsi netizen tidak bisa lepas dari penilaian dalam memberi makna. Tentu saja, persepsi sangat tergantung pada tingkat pengetahuan, pengalaman, kejibakan, kedekatan maupun akal sehat. Persepsi sangat beragam karena stratifikasi social, kemampuan menelaah dan literasi terjadi disparitas besar.dalam masyarakat kita. Hal yang tidak dimaksudkan sensasional, tidak bersifat lateral tapi sikapi secara menghebohkan. 

Kita menelaah kalimat dia tidak punya darah Indonesia. Itu berarti 0% tidak punya sama sekali darah Indonesia  Artinya, memang keluarga Agnez Mo tidak menikah dengan pribumi, meski tidak selalu bermakna menjaga kemurnian ras.  Historis keturunannya di Indonsia tidak menikah dengan penduduk local, sehingga tidak ada darah campuran.  Ini tidak ada yang salah dalam mengungkapkan fakta demikian. Sama halnya yang terjadi di masyarakat arab di Indonesia, jika tidak menikah dengan penduduk local.

Komentar Agnez Mo berdarah Jerman, Jepang, dan China. Memang mengejutkan, karena nampak berlebih darah Tionghoa dibanding Jerman. Darah Jerman (garis keturunan bangsa Aria) berarti memiliki rambut pirang, kulit lebih putih, sementara agnez Mo lebih dominan wajah oriental. Bisa jadi keturunan berapa generasi. Tentu lebih detailnya test DNA untuk mengetahui leluhur (genetic). Keturunan Jepang dan China adalah hal berbeda. Timbul pertanyaan? Bagi orang china mengganggap jepang sebagai penjajah. Luka masyarakat China masih melekat ketika perlakuan keji. Sampai tidak ada bendera Jepang di pabrik sutra Suzhou, China. Sebaliknya dalam keturunan bisa jadi, dalam tubuh seseorang ada darah jepang dan China. Tapi, darah China diletakkan paling belakang dalam penyebutan itu memberi persepsi prosentasi darah China lebih sedikit dibanding Jerman, sementara keluarga Agnez Mo lebih oriental. Apakah ini dianggap sebagai kebanggaan ras. Semua orang memiliki keturunan Eropa akan membanggakan karena lebel yang melekat jadi prestige. Yang jelas berbicara tentang kebanggan keturunan, bukan berbicara tentang kewarganegaraan. 

Memang pertanyaan hal yang lumrah. Host yang bertanya pun tidak bermaksud menggiring kepada pernyataan kontroversi. Tapi, sebenarnya menjebak, tanpa disadari karena menyangkut ras. Terpancing dengan pertanyaan host, sehingga tidak perlu penjelasan tentang ras yang ternyata masih sensitive dalam persepsi netizen Indonesia, meskipun secara fakta, benar. Ada opinion leader yang bijak menjelaskan bahwa kurang tambahan kalimat, “meskipun saya tidak punya darah Indonesia, tapi saya begitu cinta Indonesia”. Ataupun “saya orang Indonesia, tapi mempunyai darah Jerman, Jepang dan China. Hal itu sebenarnya sudah dijelaskan setelah kata itu bahwa Agnez lahir di Indonesia. Tapi kan, tetap ada juga yang nyinyir. Secara keseluruhan wawancara  tidak ada maksud mengingkari kecintaan terhadap Indonesia. Menjawab pertayaan wawancara memang tidak mudah, jika dari profesi yang digeluti , tiba-tiba terselib tentang kebangsaan dan negara.

Bila hal ini diungkap orang biasa, tentu tidak ada persoalan. Setiap sosok popular, celebretis, artis yang dijadikan idola, maka tidak ada wilayah hidup personal, kadang segala bentuk perilaku, pernyataan selalu dikuti penggemarnya. Namun, pada akhirnya pembaca lebih mendukung Agnez Mo.  Pemilik 19 juta lebih follower di Instagram  dalam wawancara dengan bahasa Inggris begitu excellent sedikit demi sedikit bisa dimengerti, meski tetap kontroversi.


Dr. H. Yuyung Abdi M.Med.Kom
Kepala Prodi magiter ilmu komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang
29 November 2019

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]