Post Page Advertisement [Top]

artikelerika

Eksistensi “Announcer” Radio, Di Tengah Hantaman Era Digital

Sebelum terpaan era digital begitu dahsyat melanda berbagai kehidupan, khalayak yang lahir di tahun 80-90an mungkin pernah merasakan indahnya menikmati radio kala itu. Memberi salam untuk special someone  lewat stasiun radio, atau sekedar request lagu kesukaan, tentu sebagai kenangan romantis  saat Maklum yah dulu kan media sosial belum seramai dan se-addict saat ini. Dulu, hati bisa berbunga-bunga, saat mengetahui si doi sedang mendengarkan salam yang di-request di sebuah stasiun radio, pastinya hati terasa bahagia, berbunga-bunga dan penuh cinta. Bahkan tak sedikit pula yang mencurahkan isi hatinya di radio yang menyediakan sebuah program ‘suara pendengar’. Lalu seseorang pasti akan betah stay tuned terus di stasiun radio favorit jika menyukai suara dan pembawaan si penyiar.  Ketika radio tengah Berjaya, kita pasti  memiliki penyiar favorit, meski belum melihat performa aslinya. Namun suara khas serta pembawaanya yang bersahabat dan unik bikin ngangenin
Saat ini sahabat milenial mungkin enggak tahu, indahnya kenangan, namun begitu manis saat jadi penggemar radio. Serunya, radio melaporkan pertandingan sepak bola. Moonmap nih, rata-rata milenial sekarang sih tahunya cuma dengerin musik di platform digital seperti spotify, joox, soundcloud, iTunes dan sebagainya. Beberapa masih menikmati radio, tapi paling sedikit lah cuma segelintir orang saja. Terus, biasanya para milenial habis dengar lagu dari spotify diupload ke instagram story pamer lagi dengarin lagu, biar apa coba? Padahal enggak bisa diplay juga kalau followers instagramnya enggak punya aplikasi platform musik digital tersebut. Bisa jadi biar seluruh netijen +62 tahu lagu kesukaanya.
Waktu telah berubah, cara memanfaatkan radio juga berubah. Bagaimana radio di era digital now? Jumlah pengguna radio konvensional telah mengalami penurunan, meskipun media elektronik ini masih memiliki penggemar setia. Penjualan perangkat radio juga mengami penurunan dratis. Beberapa handphone dilengkapi fitur radio, tapi, tidak begitu besar peminatnya. Kini, fasilitas radio lebih banyak disediakan perangkat audio mobil, sehingga pengendara dapat menikmati siaran radio lewat mobil. Traffic report, informasi, memberi berita terbaru  dan hiburan, sekaligus laporan pendengar. Apa yang membuat radio tetap bertahan?  Cara  menjadikan radio tetap eksis adalah menggunakan aplikasi live streaming. Radio streaming jadi model peralihan radio konvensional. Radio terintegrasi dengan internet dalam era digitalisasi. Dengan ini dapat juga melakukan siaran langsung lewat media sosial. Apalagi nilai plus dari radio, yakni bisa didengarkan sambil melakukan aktifitas lain. 
Radio berelasi dengan dengan sosial media, membuka interaksi dengan pendengar lewat chat maupun update status di Instagram, facebook, whatsapp, maupun twiiter. Apa yang dilakukan announcer bisa eksis? Announcer harus selalu update info dan update aktivitas siaran. Namun, apakah kehadiran Podcast dapat menghantam eksistensi radio. Kita tunggu jawabannya.


Erika Oktafiani, SE
Program Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi 
Stisipol Candradimuka Palembang

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]