Post Page Advertisement [Top]

artikelfirdanianty

Build a Strong I-Brand

Kemarin saya mengganti status media sosial saya dengan kalimat berikut: Life is short. Build a strong I-Brand.Terus terang, kata-kata ini tidak lahir dari pemikiran saya. Saya menemukannya dari sebuah buku yang ditulis konsultan brand dan ethnographer yang juga sahabat saya, Amalia E Maulana. Tak sampai satu menit, media sosial saya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Ternyata, seorang teman yang membaca status saya, tergelitik bertanya. “I-brand itu maksudnya apa, Mbak?” 
Saya sependapat. Membangun I-brand – dalam bahasa Indonesia disebut citra diri – perlu dilakukan sejak dini. Citra diri adalah apa yang dikatakan orang ketika diri kita tidak berada di sana, demikian menurut Amalia mengenai definisi I-brand yang paling sederhana. ”Kalau saya menjelaskan tentang diri saya, itu artinya one way communication. Saya ingin dianggap seperti apa.  Apakah teman-teman akan punya persepsi yang sama seperti yang saya harapkan? Kalau memang sama, berarti branding saya sudah bagus,” kata pendiri dan Direktur Etnomark Consulting ini menjelaskan.
Amalia E Maulana meluncurkan buku berjudul Brandmate – Mengubah Just Friends Menjadi Soulmates. Amalia lebih banyak membahas cara membangun brand yang dia analogikan seperti membangun persahabatan. Ia memberi contoh Samsung, yang semula sebuah brand yang biasa-biasa saja, namun dalam waktu beberapa tahun mampu berdiri sejajar dengan brand-brand papan atas. Penulis buku Consumer Insights via Ethnography (2009) ini, berpendapat bahwa memiliki brand kuat bukan perkara mudah. “Butuh waktu dan strategi pemasaran yang tepat,” tutur Amalia menegaskan. Brand yang kuat, menurutnya, adalah brand yang dikenal luas, dimengerti maknanya, disukai, selalu dipilih pada tiap kesempatan, dan direkomendasikan kepada konsumen lain. Tak hanya itu. Brand yang kuat juga mendapatkan posisi seperti apa yang dipikirkan konsumen terhadapnya. 
Sesampainya di rumah, saya membuka lembar demi lembar buku tersebut. Pada halaman daftar isi, mata saya langsung tertuju pada bab terakhir (#7) yang berjudul I-Brand: The CEO of Me Inc. Nah, di bab inilahsaya menemukan kata-kata seperti yang saya kemukakan di awal tulisan. Life is short. Build a strong I-Brand. Menurut saya, kalimat ini maknanya begitu dalam. Dengan membangun I-brand, saya dituntun untuk menentukan arah hidup saya. Sebuah pertanyaan berseliweran dalam pikiran saya. “Saya ingin orang lain mengenal saya sebagai apa?
Dalam buku ini Amalia menjelaskan bahwa diri kita mencerminkan sebuah brand, citra. Ia mengutip pendapat Tom Peters, ahli manajemen dan personal branding, bahwa branding diri sendiri tidak ada hubungannya dengan usia berapa saat ini, mempunyai posisi apa di kantor, atau di bisnis apa kita bergerak. Semua orang, yang sadar akan pentingnya nama dan citra, adalah CEO dari perusahaannya sendiri, Me Inc.
Saya teringat obrolan saya dengan Amalia. Kami berdiskusi tentang pentingnya membangun I-brand. Menurut Amalia, I-brand mengomunikasikan siapa diri kita dan memproyeksikan kemampuan, keunikan dan diferensiasi personal. Representasi tidak harus melalui media formal. Yang lebih berperan adalah media informal, di mana kontak langsung dengan target audiens mendominasi terciptanya citra diri. Hal inilah yang membedakan I-brand dengan personal brand, yakni dilihat dari tingkat intensitas dan cara berkomunikasi dengan target audiens. Personal branding hampir tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan media massa, sementara I-brand tidak demikian.
Oleh karena itu, Amalia melanjutkan, pemilihan bahasa verbal dan non-verbal (bahasa tubuh) yang digunakan sehari-hari, turut menciptakan rasa nyaman untuk setiap interaksi dengan pihak lain. Bahkan, mau atau tidak mau, pemilihan ’kemasan’ seperti busana yang dikenakan, ikut mendorong terciptanya I-brand.
            Komunikasi siapa diri kita yang dikemas dalam I-brand juga dapat dicermati melalui media sosial. Di media sosial penilaian terhadap citra seseorang dapat dilakukan dengan sangat mudah. Yakni menilai dan menganalisis karakter orang melalui statusnya di media sosial. Istilahnya adalah cyber presence atau kehadiran brand di dunia cyber, dunia virtual. 
            Harus diakui, kehadiran media-media – termasuk media sosial – di Internet dalam proses branding memiliki banyak kelebihan, di antaranya: proses branding menjadi semakin cepat dan mampu menjangkau target audiens dalam hitungan detik, dapat memilih audiens sesuai segmen yang diinginkan, berbiaya murah, dan umpan balik dapat dirasakan secara langsung melalui interaksi dengan target audiens. Justru, keunggulan yang disebut terakhir itu sekaligus dapat menjadi bumerang bagi seseorang jika melakukannya kurang hati-hati.
Masalah ini pun dibahas dalam buku Brandmate. Amalia menulis, “Media sosial bak pisau bermata dua.” Apa maksudnya? Ia menjelaskan, jika seseorang dapat menggunakan media sosial dengan baik dan bijaksana, maka akan menjadi alat yang sangat membantu mempromosikan diri sendiri dengan cepat dan murah. Akan tetapi, di sisi lain, jika seseorang tidak bersikap hati-hati, media sosial setiap saat menjadi ancaman yang berbahaya. 
Misalnya, Amalia mencontohkan, mem-posting kata-kata keluhan terhadap pekerjaan di kantor. Kesannya sepele, tetapi sudah banyak contoh, di mana posting itu kemudian menjadi bumerang bagi penulisnya, karena mencerminkan ketidakdewasaan dalam menghadapi persoalan. Amalia mengingatkan, “Kita sering kali bekerja tanpa henti untuk mengejar performa brand yang sedang ditangani di kantor, tetapi lupa untuk bekerja secara pararel membina I-brand.” 
Saya akan menyudahi tulisan ini dengan mengutip Hubert K. Rampersad. Penulis buku Sukses Membangun Authentic Personal Branding ini mengatakan, citra diri melingkupi kesadaran diri dan pengetahuan diri. Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami kekuatan, kelemahan, kebutuhan, nilai, ambisi, suasana hati, emosi dan dorongan dalam diri, dan dampaknya pada orang lain. 
Perlu diketahui, branding adalah proses. Bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu semalam, Amalia menegaskan hal itu. Untuk memudahkan pencapaiannya, kita perlu menetapkan rencana jangka pendek dan jangka panjang. Bagaimana, sudah siap membangun I-brand? Yuk, kita mulai dari sekarang! 


Dr. Firdanianty Pramono, S.Pi., M.Pd
Dosen Stisipol Candradimuka Palembang
Dosen Universitas Pakuan Bogor




No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]