Post Page Advertisement [Top]

artikellukmansyah

Bagiamana Pemerintah Daerah Ogan Ilir memberi KTP gratis kepada warga, tanpa datang ke kantor Dinas Kependudukan

Sebelum tahun 2014, penduduk Kabupaten Ogan Ilir dalam jumlah besar tidak memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk). Bila ada warga memiliki anak akan melanjutkan sekolah, maka dia  baru terdorong  mengurus KTP. Mereka juga tidak memliki KSK (Kartu Susunan Keluarga). Padahal, saat anak mereka lahir, karena tidak ada KTP dan KSK, maka tidak bisa mengurus Akte Kelahiran. Bahkan, penduduk tidak memiliki surat nikah, sehingga tidak bisa mengurus surat kelahiran anak. Kembali lagi pada persoalan dasar bahwa mereka tidak punya KTP, tidak bisa mengurus apapun. Mereka bergegas mengurus KTP ketika akan melaksanakan ibadah umroh, membuka rekening bank dan lain lain. 
            Untuk itulah pemerintah Kabupaten Ogan Ilir melakukan perubahan besar dengan melakukan terobosan pendataan dan pemilikan KTP, KSK, Akte Kelahiran dan Itsbat Nikah.
Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Ilir nomor 12 tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Ogan ilir pada Bab II, Pasal 2, Poin d, Nomor 10 bahwa Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tipe A menyelenggarakan urusan Pemerintahan Bidang Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang disahkan pada 14 November 2016. 
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil adalah pelaksana pelayanan administrasi publik di wilayah Kabupaten Ogan Ilir, untuk itu Disdukcapil dituntut memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan keinginan dan harapan masyarakat. Kondisi internal Disdukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil) dibenahi dan pelayanan dengan semangat kerja keras ditanamkan. Pada Tahun 2014 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ogan Ilir dibawah kepemimpinan Akh. Lutfi mulai berbenah dan melakukan program-program yang dicanangkan. Disdukcapil turun ke lapangan dan bekerja sama dengan berbagai pihak melakukan perekaman ke desa-desa, perekaman ke sekolah, perekaman penduduk yang sakit dan lansia dipadu berbagai rangkaian kegiatan yang membangun kebersamaan.
Target dari Didukcapil Ogan Ilir, diantaranya adalah Pendataan seluruh warga Kabupaten Ogan Ilir. Laporan akhir tahun 2014, terdata untuk pencetakan Kartu Keluarga mencapai 47% dari 129.790 Keluarga, Kemudian Kartu Tanda Penduduk Elektronik, 31,28% dari 320.970 Wajib E-KTP, dan Akta Kelahiran, Laki-laki 79.114 Jiwa dan Perempuan 51.673 Jiwa. Pada tahun 2015, Kartu Keluarga 96% dari 120.504 Keluarga, Kartu Tanda Penduduk Elektronik, 35,19% dari 106.325 Wajib E-KTP, Akta Kelahiran Sesuai Domisili Ibu : 54.716 Jiwa, Luar Domisili : 81 Jiwa, Umum : 19.503 Jiwa, sedangkan yang terlambat : 35.293 Jiwa.
Pada tahun 2016, pencapaian yang dilakukan Didukcapil sudah terlayani Kartu Keluarga 98% dari 120.450 Keluarga, Kartu Tanda Penduduk Elektronik, 100% dari 233.490 Wajib E-KTP, Akta Kelahiran Sesuai Domisili Ibu : 64.950 Jiwa, Luar Domisili : 91 Jiwa, Umum : 23.235 Jiwa dan Terlambat : 41.815 Jiwa. Pada tahun 2017, Kartu Keluarga 98,18% dari 121.706 Keluarga, Kartu Tanda Penduduk Elektronik, 74,46% dari 299.827 Wajib E-KTP, Akta Kelahiran, 32,96% dari 429.073 Jiwa. Pada tahun 2018, Kartu Keluarga 98,71% dari 119.759 Keluarga, Kartu Tanda Penduduk Elektronik, 90,36% dari 279.931 Wajib E-KTP, Akta Kelahiran, 34,57% dari 406.063 Jiwa.
Pada tahun 2018 penduduk Kabupaten Ogan Ilir berjumlah 409.297 jiwa, terdiri dari 208.059 jiwa penduduk laki-laki dan 201.238 jiwa penduduk perempuan. Jumlah ini meningkat dari jumlah penduduk pada tahun sebelumnya (406.063) yakni sebesar 0,796%.
Pemerintah Daerah Kabuppaten Ogan Ilir melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil mempunyai Program luar biasa dalam mendata seluruh warganya.  Program jemput bola perekaman E-KTP, yakni petugas tidak hanya sebatas mengunjungi Desa saja,  tetapi juga langsung mendatangi rumah warga yang sakit. Salah satu contoh, pada Selasa 18 Desember 2018 lalu, petugas Disdukcapil mendatangi salah satu warga yang tidak bisa mendatangi lokasi yang menjadi titik perekaman di Desa Talang Balai Kecamatan Tanjung Raja. Hal ini disebabkan warga mengalami kelumpuhan. Kedatangan Tim Gisa Disdukcapil OI ke Desa Talang Balai Lama ini difasilitasi kepala Desa selaku tuan rumah.  Program ini bertujuan untuk  memastikan semua warga Kabupaten Ogan Ilir memiliki E-KTP. 
Pada tahun 2019 untuk pencetakan Kartu Keluarga terdata 98,93% dari 117.244 Keluarga, Kartu Tanda Penduduk Elektronik, 94,13% dari 284.116 Wajib E-KTP, Akta Kelahiran, 35,95% dari 409.297 Jiwa. Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir (OI) melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Program Itsbat Nikah pada bulan April 2018 tepatnya pada tanggal 6,13, dan 20 April 2018 yang diikuti 300 pasang suami istri (pasutri) dari 16 Kecamatan dalam Kabupaten Ogan Ilir. 
Program ini tentu hal ini sangat membantu masyarakat OI yang belum memiliki dokumen-dokumen nikah seperti Buku Nikah, Akte Kelahiran, KK, dan KTP secara gratis. Tak hanya itu, setiap peserta yang selesai mengikuti Sidang Itsbat Nikah dari Disdukcapil langsung menerima dokumen-dokumen penting sekaligus memperoleh mukenah, sarung, dan uang transportasi.
Perlu diketahui, Kabupaten Ogan Ilir berdiri dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Bapak H.Mohammad Ma’ruf, pada tanggal 7 Januari 2004 di Jakarta bersamaan dengan peresmian pembentukan 24 Kabupaten/Kota lainnya sebagai daerah otonom. Kabupaten Ogan Ilir dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten OKU Timur, Kabupaten OKU Selatan, dan Kabupaten Ogan Ilir di provinsi Sumatera Selatan yang disahkan pada tanggal 18 Desember 2003. 
Kabupaten Ogan Ilir merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ilir yang mempunyai batas administrasi Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin, Kota Palembang dan Kabupaten Muara Enim, kemudian Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten OKU dan OKU Timur, di Sebelah Timur Kabupaten Ogan Ilir berbatasan dengan Kabupaten OKI dan OKU Timur.  Sedangkan untuk di Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Muara Enim dan Kota Prabumulih. Luas wilayah Kabupaten Ogan Ilir sesuai dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2003 adalah 2.666,07 km2 atau 266.607 hektar, dengan awal kecamatan yang berjumlah 6 kecamatan. 
Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Ilir Nomor 22 Tahun 2005 tentang Pembentukan dan susunan Organisasi Kecamatan dalam Kabupaten Ogan Ilir, jumlah kecamatan sebanyak 16 kecamatan. Kecamatan terluas adalah Kecamatan Rambang Kuang dengan luas 528,82 km2. Sedangkan kecamatan tersempit adalah Kecamatan Rantau Panjang yang luasnya 40,85 km2. Kabupaten Ogan Ilir memiliki penduduka asli Ogan Ilir dan suku pendatang dari Pulau Jawa. 
Penduduk asli Ogan Ilir ini terdiri dari Suku Ogan, Suku Pegagan, dan Suku Penesak. Suku Ogan menggunakan bahasa Ogan, meliputi penduduk di sepanjang sungai Ogan mulai dari Desa Munggu Kecamatan Muara Kuang sampai ke Desa Embacang Kecamatan Lubuk Keliat. Suku Pegagan berbahasa Pegagan yang meliputi penduduk di Kecamatan Tanjung Raja, Rantau Panjang, Sungai Pinang, Rantau Alai, Kandis, Pemulutan, Pemulutan Barat, Pemulutan Selatan, Indralaya, dan sebagian Indralaya Selatan. 
Suku penesak disebut juga Suku Meranjat, menggunakan bahasa Melayu Palembang atau Bahasa Meranjat, meliputi penduduk di Kecamatan Tanjung Batu, Payaraman, sebagian Kecamatan Lubuk Keliat, dan sebagian Kecamatan Indralaya Selatan. Sedangkan suku pendatang, seperti suku Jawa dan Sunda, kebanyakan di Kecamatan Indralaya Utara, Muara Kuang (Tanabang), dan Rantau Alai. Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda atau Jawa dan untuk pergaulan dengan warga setempat menggunakan Bahasa Indonesia.
Kabupaten Ogan Ilir terkenal dengan nama Kota Santri, senada dengan Visi Daerah Kabupaten Ogan Ilir tahun 2005  2025 sebagai tertuang dalam Rencana pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2005-2025 adalah Terwujudnya Ogan Ilir Yang Santri Menuju Masyarakat Sejahtera. Santri mempunyai dua pengertian pokok, yaitu Santri dalam arti Harfiah adalah Aktifitas Kehidupan sehari-hari dalam masyarakat ogan ilir yang selalu dilandasi oleh nilai-nilai agama islam, kemudian Santri sebagai singkatan dari Subur, Aman, Nyaman, Tertib, Relegius dan Indah. Adapun Sejahteramengandung pengertian kondisi yang dimiliki, dirasakan, dan dinikmati oleh penduduk/masyarakat terhadap kebutuhan hak dasar hidupnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan bermartabat sudah tercukupi atau melebihi. Kebutuhan dasar tersebut antara lain kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam, lingkungan hidup, rasa aman, dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki.



Lukmansyah Br
061901004
Magister Ilmu Komunikasi
Stisipol Candradimuka Palembang

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]